Saya banyak mengikuti kuis di negeriku, mulai dari kuis oow siapa dia (betulmi?) yang bertanya siapa yang akan menjadi anggota dewan sampai presiden. Serta kuis apakah janji kampanye itu pasti ada suatu hari nanti?
“insya Allah nak” kata tetangga saya yang kebetulan juga ikut kuis.
Sekarang lagi seru-serunya masyarakat Indonesia terbius kuis “who want’s to be a prisoner”. Pesertanya konon kabarnya terbatas. Cuma untuk kalangan reptil. Baik yang kecil, sekecil upil sampai sebesar T-Rex. Menurut A.Bustanimudding,BA (dalam “analisis komprehensif-paradox-progressif-konseptual-determinan untuk pemula; 2009). Kita baiknya wait and see, menonton dan mencermati kuis ini untuk melihat siapa yang bohong sebenernya. Atau paling anteng “join” pada wadah yang sangat massif dan ultra-revolusioner, yaitu: “Seluruh Penduduk Bumi Mendukung Godzilla”.
Kalau kurang sreg, tinggal gabung di tetangga sebelah saja: “Seluruh Penduduk Bumi Beserta Bapakmu Mendukung Jurassic park”
Di tempat lain, orang-orang ramai pada ikut kuis siapa berani. Tapi konon kabarnya pertanyaan terhenti pada titik 2 juta rupiah, karena pertanyaannya pelik amir. Pertanyaan misterius itu adalah “siapa yang berani memberantas korupsi di Indonesia”? maka peserta tampak sangat gelisah mencai jawaban yang tepat dan akhirnya memilih mundur dan membawa uang 2 juta rupiah.
Di Wikipedia pun saya yakin belum masuk databasenya. Pembuat kuisnya jangan-jangan sengaja untuk menanyakan hal yang tidak-tidak.
Tapi Rusdiyanto Jaffar (bukan nama sebenarnya) tidak kesulitan menjawab pertanyaan dari kuis siapa berani pada bagian: Kapankah PLN tidak rugi lagi dan Indonesia terbebas dari pemadaman bergilr?
Jawabannya pun sangat lugas: Sampe nenek lu jadi dirut pak……
1 juta rupiah untuk Rusdiyanto
***
Sementara yang elit-elit membuat dan mengikuti kuis yang elit-elit pula. Rakyat kecil masih berkutat pada pertanyaan-pertanyaan dasar. Mahal atau nyicil, makan atau sepiring berduabelas, mengemis atau ngamen, buruh atau kuli, puskesmas atau dukun, koran bekas atau kardus, miskin atau melarat, mati atau dibunuh, digusur atau digilas. Tak terlalu banyak pilihan memang bagi sebagian orang di negeri ini. Kesejahteraan itu ada di spanduk dan baliho, iklan visit indonesia year, iklan KFC, dan acara apartemennya fenny rose.
Ibunya anak-anak (bukan anak-anak saya) mengeluh semakin mahalnya ongkos untuk hidup di Indonesia. Kata saya mahal bisa berarti berbeda, mahalnya konglomerat berarti harga apartemen mewah, parfum impor, perluasan lapangan golf (tidak ada hubungannya dengan rani). Tapi kata teman saya (inisial: BCL- bukan bunga citra lestari) yang keberatan namanya dipublikasikan di sini, mahal bagi dia adalah sekolah bagi anak-anaknya, harga buku, harga minyak tanah, mahal juga berarti tidak sengaja menyerempet mobil dengan stiker “keluarga besar polisi militer", mengeritik orang (ingat kalimat: Kau akan membayar mahal atas semua ini!) atau datang berobat ke rumah sakit dengan wajah seperti penulis blog ini... (maksudmu??!!)
Sebaiknya tulisan ini segera diakhiri karena semakin tidak ilmiah
Wassalam.









