Menurut Drs. Feri Yusuf Sanusi (dalam buku Indonesia berpacu dalam melodi; 1975) Di negeri ini, hidup adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan kuis. Orang miskin menjawab kuis makan apa kita hari ini, sedangkan orang kaya berkutat dengan pertanyaan siapa yang akan kita makan hari ini.

Saya banyak mengikuti kuis di negeriku, mulai dari kuis oow siapa dia (betulmi?) yang bertanya siapa yang akan menjadi anggota dewan sampai presiden. Serta kuis apakah janji kampanye itu pasti ada suatu hari nanti?

“insya Allah nak” kata tetangga saya yang kebetulan juga ikut kuis.


Sekarang lagi seru-serunya masyarakat Indonesia terbius kuis “who want’s to be a prisoner”. Pesertanya konon kabarnya terbatas. Cuma untuk kalangan reptil. Baik yang kecil, sekecil upil sampai sebesar T-Rex. Menurut A.Bustanimudding,BA (dalam “analisis komprehensif-paradox-progressif-konseptual-determina
n untuk pemula; 2009). Kita baiknya wait and see, menonton dan mencermati kuis ini untuk melihat siapa yang bohong sebenernya. Atau paling anteng “join” pada wadah yang sangat massif dan ultra-revolusioner, yaitu: “Seluruh Penduduk Bumi Mendukung Godzilla”.

Kalau kurang sreg, tinggal gabung di tetangga sebelah saja: “Seluruh Penduduk Bumi Beserta Bapakmu Mendukung Jurassic park”

Di tempat lain, orang-orang ramai pada ikut kuis siapa berani. Tapi konon kabarnya pertanyaan terhenti pada titik 2 juta rupiah, karena pertanyaannya pelik amir. Pertanyaan misterius itu adalah “siapa yang berani memberantas korupsi di Indonesia”? maka peserta tampak sangat gelisah mencai jawaban yang tepat dan akhirnya memilih mundur dan membawa uang 2 juta rupiah.

Di Wikipedia pun saya yakin belum masuk databasenya. Pembuat kuisnya jangan-jangan sengaja untuk menanyakan hal yang tidak-tidak.

Tapi Rusdiyanto Jaffar (bukan nama sebenarnya) tidak kesulitan menjawab pertanyaan dari kuis siapa berani pada bagian: Kapankah PLN tidak rugi lagi dan Indonesia terbebas dari pemadaman bergilr?
Jawabannya pun sangat lugas: Sampe nenek lu jadi dirut pak……

1 juta rupiah untuk Rusdiyanto

***

Sementara yang elit-elit membuat dan mengikuti kuis yang elit-elit pula. Rakyat kecil masih berkutat pada pertanyaan-pertanyaan dasar. Mahal atau nyicil, makan atau sepiring berduabelas, mengemis atau ngamen, buruh atau kuli, puskesmas atau dukun, koran bekas atau kardus, miskin atau melarat, mati atau dibunuh, digusur atau digilas. Tak terlalu banyak pilihan memang bagi sebagian orang di negeri ini. Kesejahteraan itu ada di spanduk dan baliho, iklan visit indonesia year, iklan KFC, dan acara apartemennya fenny rose.

Ibunya anak-anak (bukan anak-anak saya) mengeluh semakin mahalnya ongkos untuk hidup di Indonesia. Kata saya mahal bisa berarti berbeda, mahalnya konglomerat berarti harga apartemen mewah, parfum impor, perluasan lapangan golf (tidak ada hubungannya dengan rani). Tapi kata teman saya (inisial: BCL- bukan bunga citra lestari) yang keberatan namanya dipublikasikan di sini, mahal bagi dia adalah sekolah bagi anak-anaknya, harga buku, harga minyak tanah, mahal juga berarti tidak sengaja menyerempet mobil dengan stiker “keluarga besar polisi militer", mengeritik orang (ingat kalimat: Kau akan membayar mahal atas semua ini!) atau datang berobat ke rumah sakit dengan wajah seperti penulis blog ini... (maksudmu??!!)

Sebaiknya tulisan ini segera diakhiri karena semakin tidak ilmiah

Wassalam.


"Terkadang bangsa kita suka ironis, saat momen silaturahim begini, masyarakat justru ramai ke kebun binatang". SMS dari seorang teman beberapa hari setelah lebaran.

kita bangsa yang senang pada kelucuan-kelucuan, pikirku. wajar saja

Analisis dengam metode alakadarnya menyimpulkan bahwa bersilaturahim kepada binatang sangat penting, karena sebagai orang baik-baik dan tidak malu-malu meminta maaf, serta sangat ringan hati memberi maaf, tentu saja semua orang sudah lunas satu sama lain, makanya amat perlulah untuk diperluas ke spesies lain.

atau barangkali kita menemukan sisi tergelap dalam diri kita pada singa, tapir, gajah, dan teman-temannya.

maaf, saya tidak bermaksud membuatnya menjadi lebih rumit.


Setiap tahun rombongan kendaraan memadati jalan-jalan raya. Berita-berita menampilkan gambar antrian orang yang sedang mengantri tiket. Untuk apa? Apa yang menggerakkan hati setiap orang-orang itu untuk kembali pulang?

Dalam masyarakat Indonesia yang mengidentifikasi kemapanan dengan tinggal di kota, berdekatan dengan pusat pemerintahan dan pusat produksi , urbanisasi adalah hal yang lazim dan bisa dimengerti sebagai bagian yang lekat dari negeri ini. Begitupula Sompe (berlayar, kemudian berarti merantau) yang kataya lebih kepada “pemberontakan sosial ekonomi”, adalah upaya untuk memperbaiki nasib dan meningkatkan harkat dalam tradisi orang-orang bugis

Jikalau sompe adalah untuk pergi, mudik atau pulang kampung adalah jalan kembali, untuk memberitahukan prestasi-prestasi (atau kegagalan-kegagalan) dalam proses lompatan sosial ini kepada keluarga dan kerabat. Dalam tradisi mudik Indonesia menurutku adalah sebuah pelaporan, pemberitahuan bahwa seseorang telah berhasil menegakkan keberadaannya dalam kerasnya kota. “aku pulang dari sompe, maka aku ada” barangkali kata Rene Descartes kalau seandainya ia orang bugis.

Orang-orang yang mudik akan menceritakan perjuangan, pahitnya kegagalan, atau kejayaan yang gilang gemilang. Ada yang sekedar mudik dari kuliah, dari Malaysia, Jakarta (kalau saya perhatikan orang-orang di kampungku tujuan utamanya banyak yang ke Malaysia atau Kalimantan sebagai pekerja). Ada yang pulang membawa mobil, uang berlimpah-limpah, ada juga yang pulang untuk bersumpah tidak akan kembali ke sana.

Mudik atau pulkam barangkali sudah menjadi semacam “pikiran massa”, yang menjadi motivasi, atau seperti pikiran alam bawah sadar (saya bukan Freudian tapi dalam hal ini mungkin ada benarnya. Pulang kampung mungkin juga adalah semacam penyeimbangan antara individiualisme perkotaan versus tenggang rasa dan persaudaraan yang kental ala kampoeng halaman,. Mungkin seperti bandul sejarah yang selalu saling tarik menarik antara kutub materialis dan kutub sprtualis, tatkala materialisme sudah pada titik kritis maka akan bergerak kearah yang satunya, begitupun sebaliknya. Paling tidak menurut bayanganku saja

Apa yang dibawa dari sompe? Tentunya adalah kabar-kabar, cerita-cerita tentang negeri-negeri jauh dan kota yang asing, orang asing. Para orang tua lebih senang kabar-kabar daripada “oleh-oleh”. Saat idul fitri adalah saat yang tepat, memberikan kebahagiaan kepada para keluarga, sanak saudara, berbagi cerita-cerita, oleh-oleh, atau sekedar salam tempel uang pete-pete.

Saat mudik saatnya pulang dari sompe, menghitung ulang perjuangan dan jerih payah, seperti sandar ke kursi dan menerawang membayangkan wajah-wajah yang menjadi alasan dan tujuan dari perjalanan panjang ini.

Selamat pulkam. Selamat datang