Sekarang rakyat kita benar-benar telah kehilangan Negara. Ada kekhawatiran dalam diri saya tentang opini yang akhir-akhir mudah dilihat pembenarannya. Barangkali betul, fungsi Negara hampir semuanya tidak dirasakan rakyat. Negara yang seharusnya melindungi malah mengancam hak untuk hidup layak, semestinya menyejahterkan malah memiskinkan, tugasnya untuk melayani sampai hati malah menindas. Dipertegas lagi ketika Negara dengan teganya menaikkan harga bensin, solar, minyak tanah. Rakyat benar-benar telah bete dibohongi, bosan dikecewakan, atau kata alm. Harry Roesly, rakyat bahkan sudah bosan jadi rakyat!

Rakyat sudah bete jadi rakyat. Bagaimana dengan mahasiswa? Yang katanya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rakyat, bisa jadi sudah bosan juga menjadi Mahasiswa. Menjalankan tugasnya sebagai agen perubah dan kontrol sosial. harus memimpin. Kaum tua yang merusak sudah saatnya mundur teratur. Tapi apakah defenisinya adalah sebatas memasukkan sebanyak-banyaknya mantan aktivis, mantan ketua BEM, dan pemimpin-pemimpin mahasiswa lainnya di parlemen dan pemerintahan? Kalau anda yakin menjawab ya, sebaiknya berhentilah membaca tulisan ini.

Ada anekdot yang mengatakan bahwa sebenarnya presiden-presiden republik ini selalu melanggar salah satu sila Pancasila. Konon katanya Soekarno jatuh karena bermasalah pada sila pertama, ketuhanan yang maha esa. Akibat terlalu dekat dengan komunis yang konon kabarnya juga “atheis”. Soeharto terjerat sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab dengan rezim tangan besinya berlumuran darah pada aktivis untuk alasan menjaga “stabilitas” Negara. Habibie katanya lagi tidak menjaga persatuan Indonesia dengan membiarkan timor-timur minggat. Terus ada lagi Gus dur sama sekali tidak mencerminkan ‘hkmah kebijaksanaan” dalam sila ke empat dengan maneuver politiknya maupun pernyataan-pernyataanya yang lebih mirip orang mabuk dan kekanak-kanakan. Berikutnya dua presiden terakhir bermasalah pada pemerataan pembangunan dan keadilan sosial dengan harga BBM dan sembako yang mencekik leher serta penjualan asset-aset negara. SBY tampak lucu bila berucap (tentu saja disertai tebar pesona tebar air mata plus nyanyi bareng) tentang keadilan, pemberdayaan, dan pemerataan yang justru sama sekali tidak berlaku untuk rakyat kecil. Semua fungsi seusai teori akan mentah ketika dihadapkan dengan rakyat kecil

Kepemimpinan Indonesia secara umum tahun 2013 dan seterusnya adalah masa yang Insya Allah kita tidak mendengar lagi nama-nama Jusuf Kalla, esbeye, dan wiranto. Masa yang kosong adalah tugas kaum intelektual muda sekarang untuk menata ulang republik ini menjadi Indonesia baru. Kaum muda yang memimpin republik ini adalah kaum intelektual yang matang secara pemikiran, progressif dan bebas dari “sisa-sisa orba“ dan semangat yang “terpelihara” sama pada saat mereka masih dalam pergulatan aktivisme mahasiswa. Bukan cuma tampang muda, kesana-kemari menuntut kepemimpinan kaum muda. Kata-kata favoritnya adalah “saatnya kaum muda yang memimpin bangsa” tapi secara pemikiran, tak lebih hanya mengekor dan setia melanjutkan pola pikir aman dan pro status quo warisan turun temurun. Jadi perubahan yang terjadi akan menjadi perubahan semu, reformasi semu, dan tentu saja indonesia baru semu.

Tugas seorang intelektual muda yang paling urgen untuk saat ini , ialah menemukan langkah-langkah baru yang kreatif menyelamatkan alur sejarah kelangsungan Indonesia. Indonesia pada setiap perubahan, pahlawa yang datang paling berhak untuk menafsirkan arah filosofi kebangsaan dan demokrasi Indonesia selanjutnya. Pergulatan revolusi kemerdekaan telah melahirkan soekarno sebagai pahlawan, menjadikan demokrasi tepimpin sebagai mazhab kebangsaan Indonesia. Soeharto yang muncul tiba-tiba pada ujung orde lama, pada akhirnya mengekspresikan diri seperti raja-raja jawa jaman feodal pra-Indonesia. Semua yang kritis terhadap sepak terjangnya, diarahkan seperti menyerang pancasila, mengganggu stabilitas, dan makar terhadap negara. Reformasi kemudian membuka harapan baru untuk menuju Indonesia yang lain. Namun sayangnya setelah 10 tahun berlalu tak mampu juga membawa kesejahteraan akibat kebingungan arah bangsa era transisi.

Capekma deh.. nantipi kalo ada kesempatan kutulis lagi.. :)


Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

0 komentar