Kematian maternal merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus menjadi perhatian masyarakat dunia. Memasuki abad ke dua puluh satu, 189 negara menyerukan Millennium Declaration dan menyepakati Millennium Development Goals. Salah satu Tujuan Pembangunan Millennium (MDG) 2015 adalah perbaikan kesehatan maternal. Kematian maternal dijadikan ukuran keberhasilan terhadap pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian, akses dan kualitas pelayanan; memerangi kemiskinan; pendidikan dan pemberdayaan perempuan atau perimbangan gender menjadi persoalan penting untuk dikelola dan diwujudkan. Millennium Declaration menempatkan kematian maternal sebagai prioritas utama yang harus ditanggulangi melalui upaya sistematik dan tindakan yang nyata untuk meminimalisasi risiko kematian, menjamin reproduksi sehat dan meningkatkan kualitas hidup ibu atau kaum perempuan (George Adriaansz, 2005).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sidang kabinet terbatas tentang pembangunan sektor kesehatan di Departemen Kesehatan, awal februari 2008 menegaskan bahwa penurunan secara signifikan dan berkelanjutan angka kematian ibu dan bayi merupakan program prioritas yang harus disukseskan di bidang kesehatan pada tahun 2008. Pemerintah menurut presiden terus memberikan perhatian pada berbagai kegiatan pelayanan terbaik, khususnya masyarakat miskin dan setengah miskin. Penurunan angka kematian ibu dan bayi, dikatakan Presiden Yudhoyono, menjadi ukuran suksesnya pembangunan sektor kesehatan di Indonesia.

Kematian ibu berpengaruh besar terhadap kesejahteraan keluarga dan masyarakat dengan implikasi sosial dan ekonomi yang bermakna karena satu atau lebih anak menjadi piatu, penghasilan keluarga berkurang atau hilang sama sekali.Saat ini jumlah perempuan yang bekerja makin banyak sehingga kontribusi mereka terhadap kesejahteraan keluarga juga meningkat. Setiap tahun diperkirakan 1 juta anak meninggal menyusul kematian ibu mereka. Anak-anak yang ibunya meninggal kurang mendapat perhatian dan perawatan dibandingkan dengan yang memiliki ibu yang masih hidup (Coeytaux, Leonard A, Bloomer, 1997)

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia tertinggi di ASEAN, sebesar 307/100.000 kelahiran hidup (Survei Demografi Kesehatan Indonesia SDKI 2002 2003); artinya lebih dari 18.000 ibu tiap tahun atau dua ibu tiap jam meninggal oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas (Depkes RI,Dirjen Binkesmas, 2004)

Penyebab kematian ibu cukup kompleks, dapat digolongkan atas faktor- factor reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan kesehatan dan sosio-ekonomi. Penyebab komplikasi obstetrik langsung telah banyak diketahui dan dapat ditangani, meskipun pencegahannya terbukti sulit. Menurut SKRT 2001, penyebab obstetrik langsung sebesar 90%, sebagian besar perdarahan (28%), eklampsia (24%) dan infeksi (11%). Penyebab tak langsung kematian ibu berupa kondisi kesehatan yang dideritanya misalnya Kurang Energi Kronis (KEK) 37%, anemia (Hb <>

Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan 40-60%, infeksi 20-30% dan keracunan kehamilan 20-30%, sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan. Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya (Chalik TMA, 1997).

Dari data pada tahun 2000, diperkirakan terjadi 529 000 kematian maternal dalam setiap tahun. Data ini merupakan informasi paling mutakir terkait dengan masalah kematian ibu. Kesulitan dalam menghitung atau mengumpulkan data tentang kematian ibu diantara ibu atau perempuan dalam masa reproduksi menyebabkan besaran masalah kematian ibu diukur dengan rasio antara kematian ibu dengan jumlah kelahiran hidup (terutama di negara-negara dengan sistem surveilans atau informasi data yang kurang memadai). Secara sempit, risiko obstetrik diartikan sebagai probabilitas kematian dari seorang perempuan atau ibu apabila ia hamil. Indikator yang lebih kompleks adalah adalah risiko seumur hidup (lifetime risk) yang mengukur probabilitas kematian perempuan atau ibu sebagai akibat kehamilan dan persalinan yang dialaminya selama hidup. Bila istilah pertama hanya mencantumkan kehamilan maka yang kedua mempunyai dimensi yang lebih lebar yaitu kemampuan dan jumlah fertilitas. Estimasi global dari risiko seumur hidup adalah 1 diantara 74 (dari 74 perempuan, satu akan meninggal diakibatkan oleh risiko reproduksi).

Pada negara industri, atau di daerah-daerah makmur yang ada di negara miskin, AKI biasanya sekitar 10 per 100.000 persalinan. Oleh sebab itu, bukan suatu hal yang umum di negara/daerah tersebut apabila seorang perempuan meninggal selama masa kehamilan atau nifas. Di banyak daerah miskin dari negara industri maka AKI juga terus meningkat. Secara global, sebagian besar kematian ibu terjadi di negara-negara miskin dimana kematian biasanya dihubungkan dengan faktor kemiskinan dan kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang baik. Di negara-negara miskin, AKI biasanya lebih tinggi yaitu diatas 50 per 100.000 persalinan. AKI tersebut sangat bervariasi diantara negara-negara tersebut. Di masyarakat yang sangat terkebelakang, angka kematian akan sangat tinggi dan mungkin berada diatas 1000 per 100.000 persalinan. Di sebagian besar negara berkembang yang masih miskin, pengumpulan informasi atau data kematian masih belum dilakukan secara baik, sehingga sulit untuk menghitung AKI secara tepat.

Tingginya kematian ibu sebagian besar disebabkan oleh timbulnya penyulit persalinan yang tidak dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih mampu. Keterlambatan merujuk disebabkan berbagai faktor seperti masalah keuangan, transportasi dsb. Berdasarkan Surkesnas 2001, kematian ibu yang terjadi di rumah sakit 44%, lebih besar bila dibandingkan dengan yang meninggal di rumah (41 %). Pada tahun 2004, angka kematian ibu di rumah sakit 10,5%, meningkat dibandingkan pada tahun 2001 sebesar 8,5%.(Depkes RI, Dirjen Yanmedik, 2005)

Angka kematian maternal di indonesia masih sangat tinggi yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup sehingga menempatkan Indonesia pada urutan kedua untuk jumlah kematian martenal di antara negara-negara ASEAN lainnya. Terlepas dari berbagai strategi yang digunakan, Indonesia untuk menurunkan angka kematian maternal tiap tahunnya, penurunan angka tersebut relatif masih sangat rendah. Laporan kependudukan Indonesia pada tahun 2004 memperlihatkan kematian maternal di Indonesia yang cukup tinggi. Sepuluh tahun setelah Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) Cairo, Angka Kematian Ibu melahirkan di Indonesia masih cukup tinggi dan belum dapat diturunkan secara signifikan, serta jauh dari target internasional ICPD yaitu di bawah 125/100.000 kelahiran hidup tahun 2005 dan 75 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2015. Departemen Kesehatan menargetkan tahun 2010 angka kematian ibu turun menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. Akan tetapi sampai saat ini belum ada hasil yang signifikan terhadap penurunan angka kematian ibu (Rezky, 2008)

Untuk negara-negara Asia Tenggara tahun 2000 angka kematian maternal tertinggi adalah Indonesia 384 kemudian berturut-turut diikuti Birma 230, Filipina 170, Vietnam 160, Thailand 44, Malaysia 39 dan Singapura 6 (Andi Budi Herianto, 2003)

Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirkan adalah salah satu indikator penentu derajat kesehatan sebuah negara. Indonesia mengalami sedikit perbaikan dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2002 AKI Indonesia sebesar 307/100.000. Itu artinya terdapat 307 ibu yang meninggal di setiap 100.000 kelahiran bayi yang hidup. Tiga tahun berikutnya, tahun 2005, angkanya menjadi 263/100.000. Ada perubahan kearah perbaikan. Thailand AKI di sana 129/100.000. lagi, Malaysia, AKI nya ternyata 39/100.000. Singapura hanya 6/100.000. Itu pun bagi pemerintah Singapura masih dianggap tinggi. Karena memang logikanya proses persalinan dan kelahiran harusnya bisa berjalan lancar dan kematian bisa dicegah dengan deteksi lebih awal serta pengawasan kehamilan yang optimal. Dari angka ini juga bisa dijadikan cermin bagaimana tingkat kesehatan masyarakat Indonesia. Tentu saja sebagai catatan, Indonesia bukan cuma jakarta, bukan cuma Denpasar, Surabaya, Bandung dan kota-kota besar lain saja, tetapi tentu saja ada daerah-daerah pedalaman di Papua, daerah tidak terjangkau di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan dan lain-lain yang justru luput dari jangkauan informasi dan pelayanan kesehatan memadai, yang akhirnya menyumbang angka AKI menjadi tinggi (Okanegara, tanpa tahun).

Provinsi dengan kasus kematian ibu melahirkan tertinggi adalah Provinsi Papua, yaitu sebesar 730/100.000 kelahiran hidup, diikuti Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 370/100.000 kelahiran hidup, Provinsi Maluku sebesar 340/100.000 kelahiran hidup, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 330/100.000 kelahiran hidup. Jumlah ini tidak terlalu banyak berubah sejak masa orde baru. Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan pada tahun 2006 di Sulawesi Selatan sebesar 101,56 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2007 menurun menjadi 92,89 per 100.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, 2008)

sumber: banyakan dari latar belakangnya skripsiku..he..he:)


Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

2 komentar

  1. inayah // December 2, 2008 4:55 AM  

    tawwa.. skripsi... selangkah lebh maju..!!!

  2. naruto onepiece // December 2, 2008 10:58 PM  

    Promosikan artikel anda di www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://penyakit.infogue.com/seputar_masalah_kematian_maternal