Setiap tahun rombongan kendaraan memadati jalan-jalan raya. Berita-berita menampilkan gambar antrian orang yang sedang mengantri tiket. Untuk apa? Apa yang menggerakkan hati setiap orang-orang itu untuk kembali pulang?

Dalam masyarakat Indonesia yang mengidentifikasi kemapanan dengan tinggal di kota, berdekatan dengan pusat pemerintahan dan pusat produksi , urbanisasi adalah hal yang lazim dan bisa dimengerti sebagai bagian yang lekat dari negeri ini. Begitupula Sompe (berlayar, kemudian berarti merantau) yang kataya lebih kepada “pemberontakan sosial ekonomi”, adalah upaya untuk memperbaiki nasib dan meningkatkan harkat dalam tradisi orang-orang bugis

Jikalau sompe adalah untuk pergi, mudik atau pulang kampung adalah jalan kembali, untuk memberitahukan prestasi-prestasi (atau kegagalan-kegagalan) dalam proses lompatan sosial ini kepada keluarga dan kerabat. Dalam tradisi mudik Indonesia menurutku adalah sebuah pelaporan, pemberitahuan bahwa seseorang telah berhasil menegakkan keberadaannya dalam kerasnya kota. “aku pulang dari sompe, maka aku ada” barangkali kata Rene Descartes kalau seandainya ia orang bugis.

Orang-orang yang mudik akan menceritakan perjuangan, pahitnya kegagalan, atau kejayaan yang gilang gemilang. Ada yang sekedar mudik dari kuliah, dari Malaysia, Jakarta (kalau saya perhatikan orang-orang di kampungku tujuan utamanya banyak yang ke Malaysia atau Kalimantan sebagai pekerja). Ada yang pulang membawa mobil, uang berlimpah-limpah, ada juga yang pulang untuk bersumpah tidak akan kembali ke sana.

Mudik atau pulkam barangkali sudah menjadi semacam “pikiran massa”, yang menjadi motivasi, atau seperti pikiran alam bawah sadar (saya bukan Freudian tapi dalam hal ini mungkin ada benarnya. Pulang kampung mungkin juga adalah semacam penyeimbangan antara individiualisme perkotaan versus tenggang rasa dan persaudaraan yang kental ala kampoeng halaman,. Mungkin seperti bandul sejarah yang selalu saling tarik menarik antara kutub materialis dan kutub sprtualis, tatkala materialisme sudah pada titik kritis maka akan bergerak kearah yang satunya, begitupun sebaliknya. Paling tidak menurut bayanganku saja

Apa yang dibawa dari sompe? Tentunya adalah kabar-kabar, cerita-cerita tentang negeri-negeri jauh dan kota yang asing, orang asing. Para orang tua lebih senang kabar-kabar daripada “oleh-oleh”. Saat idul fitri adalah saat yang tepat, memberikan kebahagiaan kepada para keluarga, sanak saudara, berbagi cerita-cerita, oleh-oleh, atau sekedar salam tempel uang pete-pete.

Saat mudik saatnya pulang dari sompe, menghitung ulang perjuangan dan jerih payah, seperti sandar ke kursi dan menerawang membayangkan wajah-wajah yang menjadi alasan dan tujuan dari perjalanan panjang ini.

Selamat pulkam. Selamat datang


Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

0 komentar